JUNGKIR BALIK, BRONJONG INSTAN SUNGAI SOPU
PROYEK BRONJONG Penahan Tebing Sungai Sopu tak hentinya jadi perhatian masyarakat Desa setempat. Proyek yang diharapkan bermanfaat besar bagi masyarakat di desa penghasil buah itu, tiba-tiba menjadi salah satu proyek prioritas Provinsi Sulawesi Tengah dua Tahun lalu. Sejak awal sudah dipastikan Pemprov Sulteng menjamin proyek ini bermanfaat bagi warga Kabupaten Sigi. Lalu dipilihlah kontraktor lokal yang sesumbar menggunakan uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menggarap proyek ini.
Meski banyak menyerempet rambu, proyek yang dikerjakan oleh kontraktor lokal PT. Mahardika, ini digeber agar terus melaju. Belakangan, proyek yang menggerus uang negara yang di bandrol sebesar Rp7.577.021.000, dari pagu Rp9.390.800.000, amblas tergerus air sungai. Sepanjang 75 meter penahan tebing sungai sopu mengalami kerusakan cukub berat. Banyak masyarakat menuding jika kwaliatas Proyek tersebut yang berlokasi di Desa Sejahterah, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, sangat buruk.

Sungguh ironis, proyek bronjong penahan tebing sungai sopu TA 2016 yang dihelat Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi III, melalui Satuan Kerja (Satker) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sungai, diketahui baru berusia satu tahun sudah mengalami kerusakan cukup berat. Kondisi penahan tebing sungai Sopu porak poranda. Ada indikasi jika pada proses pelaksanaan dilapangan oleh pihak kontraktor ketika itu, banyak menyalahi aturan.
Sepanjang 75 meter bekas kerusakanya terlihat jelas, jika saat prosesnya dilakukan asal jadi. Hal ini dibuktikan, kondisi penahan tebing diduga kuat koporan atau galianya tidak terlalu dalam. Bahkan sebagian tampak hanya seperti diletakan diatas tanah. Melalui proses instan itu, sudah barang tentu kwalitas hasil pekerjaan yang dibiayai miliaran rupiah itu menjadi rusak bahkan tidak bertahan lama. Faktor alam dituding sebagai penyebabnya.
Ony yang memangku jabatan sebagai PPK menangani proyek penahan tebing sungai Sopu TA 2016 ketika itu, membantah jika kerusakan pada proyek yang menggerus uang Negara miliaran rupiah itu akibat dari kwalitas pekerjaan buruk. Dia berdalih, jika kerusakan itu di akibatkan oleh faktor alam.
“Bpk sudah kesana sendiri. Apa belum bangunan yang dikerja 900 meter dan yang rusak hanya 75 meter karena terjadi banjir. Dan itu sudah kita usulkan untuk pemeliharaan tahun ini,” katanya melalui pesan singkat via Aplikasi Whatsup.
Proyek bronjong penahan tebing sungai Sopu sepanjang 900 meter, kata Ony, mengalami kerusakan akibat banjir sepanjang 75 meter dan sudah mendapatkan pemeliharaan ketika masa garansi proyek tersebut pada tahun 2016. Ditanya soal faktor kerusakan akibat kwalitas hasil pekerjaan itu sebagai proyek gagal kontruksi, Ony, membantah, dia menilai jika proyek yang dikerjakan PT Mahardika itu yang mengalami kerusakan disebabkan oleh faktor alam.
