Program hilirisasi pertanian yang ia usulkan juga mencakup asuransi pertanian sebagai jaring pengaman bagi petani yang gagal panen.
Dalam program ini, petani yang sawahnya terkena puso atau gagal panen akibat penyakit akan mendapatkan kompensasi sebesar Rp6 juta per hektar melalui skema asuransi yang dibiayai oleh pemerintah daerah.
Program asuransi ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Sigi, melainkan bagian dari program berkelanjutan yang sudah dijalankan.
Namun, Rizal berkomitmen untuk memperluas cakupan asuransi ini agar lebih banyak petani yang mendapatkan perlindungan jika mengalami kegagalan panen.
“Kami akan memastikan bahwa petani yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) bisa mendapatkan manfaat dari program ini,” tegasnya.
Selain itu, hilirisasi dalam visi Rizal juga melibatkan peningkatan akses pasar bagi hasil panen para petani.
