“Kami melihat banyak generasi muda yang lebih mengenal permainan modern, sementara permainan tradisional seperti menangkap ikan, hadang, tilako, kadende, dan berbagai permainan rakyat lainnya mulai ditinggalkan. Bahkan ada dua generasi yang nyaris tidak lagi mengenal permainan-permainan tersebut,” ujar Makmur.
Menurut dia, penghelatan kembali Festival Pomore Nu Ngana 2026 dilandasi semangat menjaga identitas budaya lokal agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Permainan yang ditampilkan meliputi F1 Boa atau gledekan/roda-roda atau lomba sepeda kayu, Mosaka Bau atau menangkap ikan, Kadende atau engklek, Kelar atau halang rintang, Mompene Kalosu atau panjat pinang, serta Tilako atau enggarang.
Melalui kegiatan tersebut, para pemuda berharap nilai kebersamaan, sportivitas, gotong royong dan kearifan lokal yang terkandung dalam permainan tradisional dapat terus lestari.
Dari sisi partisipasi, festival tahun ini diikuti ratusan peserta. Pada kategori F1 Boa atau Mosaka Bau alias menangkap ikan, tercatat sekitar 120 peserta ikut ambil bagian.
Mayoritas peserta merupakan pelajar sekolah dasar mulai kelas 1 hingga kelas 6. Lomba hadang dan Kadende juga diperuntukkan bagi anak-anak usia sekolah dasar.


