◦ Industri Pengolahan: Kurangnya investasi dalam industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan menyebabkan nilai tambah produk rendah.
- Tata Kelola Pemerintahan yang Belum Efektif:
◦ Kebijakan: Kebijakan pemerintah daerah yang belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan petani kecil dan nelayan.
◦ Koordinasi: Kurangnya koordinasi antar instansi pemerintah dalam penanganan masalah kemiskinan.
◦ Pengawasan: Pengawasan yang lemah terhadap pelaksanaan program-program pembangunan.
Strategi Mengatasi Paradoks Kelimpahan dan Kemiskinan
- Reformasi Agraria: Melakukan redistribusi lahan secara adil kepada petani kecil dan memberikan pendampingan dalam pengelolaan lahan.
- Penguatan Koperasi Petani: Mendorong pembentukan dan penguatan koperasi petani untuk meningkatkan posisi tawar petani dalam tata niaga.
- Pengembangan Infrastruktur: Meningkatkan kualitas infrastruktur jalan, jembatan, dan irigasi untuk mendukung sektor pertanian dan perikanan.
- Peningkatan Kualitas SDM: Meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat, serta memberikan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
- Diversifikasi Ekonomi: Mendorong pengembangan sektor-sektor ekonomi lain seperti pariwisata, industri pengolahan, dan jasa.
- Tata Kelola Pemerintahan yang Baik: Meningkatkan efektivitas tata kelola pemerintahan melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat, koordinasi yang baik, dan pengawasan yang ketat.
Paradoks “merana di tengah kelimpahan” di Parigi Moutong merupakan masalah kompleks yang disebabkan oleh faktor struktural dan sistemik.
Mengatasi masalah ini membutuhkan komitmen dan tindakan nyata dari semua pihak, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Dengan reformasi agraria, penguatan koperasi petani, pengembangan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, diversifikasi ekonomi, dan tata kelola pemerintahan yang baik, Parimo dapat memanfaatkan potensi sumber daya alamnya untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat.
