“Akibat banjir pak, karena kalo tidak ada bronjong saya sudah masuk kerumah warga dan putus jalan, buktinya yang lain masih kondisi baik. Bpk bisa cek banjir di Sopu ke kepala Desa bagaimana besarnya. Mudah mudahan tahun ini turun di OP,” Singkat Ony ketika dikonfirmasi Trilogi.co.
Sementara itu, Herman Kepala Desa Sejahterah, Kecamatan Palolo, melalui Pelaksana Tugas (PLT), Rahim, ketika dikonfirmasi melalui sambungan telfon mengakui jika pada waktu pelaksanaan proyek penahan tebing sungai sopu memang terjadi indikasi kecurangan yang dilakukan pihak kontraktor saat melakukan galian koporan bronjong. Menurutnya galian dilakukan tidak terlalu dalam.
“Memang seingat saya pak, dulu waktu saya masih menjabat sebagai wakil BPD kami bertolak belakang dengan kades soal pelaksanaan proyek di desa ini. Kami meminta kepada kades agar diberitahukan kepada kontraktornya, galian dudukan bronjong itu harus dalam, tapi kepala desa hanya cuek saja. Memang setelah pekerjaan selesai, musim hujan tiba terjadi banjir jadi hancur semua sudah itu bronjong,” kata Rahim kepada Trilogi.co, melalui sambungan telfon rpibadinya.
Dengan kondisi bronjong rusak berat, kata Rahim, dirinya sudah menduga jika selain faktor alam, faktor kelalaian pihak kontraktor melakukan pekerjaan dengan asalan menjadi penyumbang musibah terjadinya kerusakan berat bagi bronjong penahan tebing sungai Sopu yang dibiayai miliaran rupiah itu.
“Dengan anggaran sebesar itu sudah pasti makan untung besar. Masa belum lama dikerjakan sudah hancur semua. Kasian masyarakat kami, yang tinggal dibantaran sungai sebanyak 40 kk, nasib mereka terancam. Dulu kami meminta sama pihak PU agar sungainya di keruk saat musim kemarau, jadi saat musim hujan airnya tidak berpencar, tapi itu tidak di gubris. Kami berharap agar Pemerintah segera memperbaikinya agar masyarakat di desa kami tidak terancam ketika saat musim hujan tiba,” pintanya.
Sementara itu Satker OP BWSS III, Wayan Karnayan ketika dikonfirmasi terpisah menjelaskan penanganan pemeliharaan pada kegiatan di Tahun 2016 dapat dilaksanakan pada kegiatan di OP pada tahun 2018. Hal ini tentunya dilihat dari tingkat pada kerusakan kegiatan proyek itu sendiri.
“Kalau kegiatan 2016 selesai, bisa masuk kegiatan di OP di 2018, yang namanya kegiatan OP pasti penanganan kerusakan ringan ringan, kalau kerusakan berat harus ditangani oleh PPK sungai. Dan sungai Sopu kayaknya sudah masuk program OP tahun ini,” kata Wayan kepada Trilogi.co.
Melihat dengan kondisi pada kegiatan penahan tebing sungai Sopu yang porak poranda tergerus air sungai, meskipun usianya baru berusia satu tahun itu, Wayan, mengakui jika kondisi tersebut masuk dalam tingkat kerusakan berat. Akan tetapi melalui ini, kata dia, tentunya harus melakukan komunikasi terlebih dahulu antara OP dan pihak PPK.
“Kami komunikasi dulu sama PPK sungai, apakah mereka ada program tersebut atau tidak. Kalau ada ya kami tidak tangani, kalau tidak ada kami hitung dulu biaya untuk masuk pemeliharaan berkala,” jelasnya.
