Pada Agustus 2026, Direktorat Jenderal SDA menyebut telah menangani 1.064 dari 1.216 kejadian kekeringan yang dilaporkan atau sekitar 88%.
Penanganan tersebut mencakup kawasan persawahan, permukiman, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Untuk sektor pertanian, Kementerian PU mencatat telah melakukan normalisasi saluran irigasi, pemompaan air dari sungai menuju sawah, pembangunan saluran darurat dan sejumlah langkah lainnya.
Namun, kasus di Bekasi menunjukkan pekerjaan belum selesai. Masih ada titik yang membutuhkan intervensi.
Persoalan air menjadi semakin penting karena pemerintah sedang mengejar target swasembada pangan 2026.
Dody tetap menyatakan optimisme target tersebut dapat dicapai. Tetapi kasus Bekasi memberikan pelajaran penting.
Swasembada pangan bukan hanya persoalan luas lahan dan jumlah produksi. Ada satu faktor yang tidak bisa ditawar: air.
Tanpa kepastian air, petani menghadapi risiko gagal tanam, produktivitas turun dan biaya produksi meningkat.
Bahkan ketika sumber air berada hanya beberapa kilometer dari sawah. Persoalan ini juga bukan sepenuhnya baru.
Pemerintah Kabupaten Bekasi sebelumnya telah melakukan percepatan normalisasi Saluran Sekunder Kedung Gede. Sejumlah titik seperti BKG 15, 17, 20 dan 30 telah ditangani untuk memperbesar kapasitas aliran menuju wilayah hilir.
Artinya, pekerjaan rumahnya bukan memulai dari nol.
Tantangannya adalah menyambungkan pekerjaan tersebut dengan jaringan di bawahnya.
Jika saluran sekunder sudah diperbaiki tetapi jaringan tersier belum mampu mendistribusikan air, maka persoalan tetap berhenti di tengah jalan.
Di titik inilah kemarahan Dody kepada jajaran Dirjen SDA menjadi penting. Bukan hanya soal satu pompa yang belum terpasang. Bukan pula hanya soal satu kawasan sawah.
Yang dipersoalkan adalah kesenjangan antara data, laporan, pekerjaan dan hasil akhir di lapangan. Dody bahkan membuka kemungkinan melakukan evaluasi terhadap pejabat yang dinilai tidak perform.
Pesannya jelas: pejabat teknis tidak cukup hanya memastikan laporan selesai. Mereka harus memastikan pekerjaan menghasilkan manfaat. Sebab bagi petani Bekasi, laporan berwarna hijau tidak otomatis membuat sawah menjadi hijau. Sawah baru benar-benar hijau ketika air sampai ke lahan dan tanaman bisa tumbuh.


