Ia yakin bahwa dengan dukungan penuh dari pemerintah, sentra ini akan menjadi wadah bagi atlet, ahli teknologi informasi, dan para gamer untuk mengembangkan potensi mereka, sekaligus mengurangi keterlibatan dalam kegiatan negatif.
“Kita harus memberikan ruang yang aman dan produktif bagi generasi muda, sama seperti yang sering kita lihat di warkop-warkop tempat mereka berkumpul dan berdiskusi,” tambahnya.
Acara tersebut juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan dan berbagi harapan.
Hendri Dirgantara, seorang mahasiswa, menyoroti krisis identitas budaya yang dialami Sulawesi Tengah, di mana banyak orang hanya mengingat daerah tersebut karena peristiwa gempa Palu dan kerusuhan Poso.
Ia berharap pemimpin daerah selanjutnya dapat mempromosikan potensi Sulawesi Tengah secara lebih luas.
