PALU – Wacana Reformasi Jilid II kembali mengemuka di tengah dinamika ekonomi, politik, dan perkembangan teknologi informasi yang terjadi di Indonesia.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi publik bertajuk Ngaji Dampak dengan tema “Indonesia di Tengah Krisis Moneter, Akankah Menuju Reformasi Jilid II?” yang digelar Resonara Podcast di Palu, Jumat (19/6/2026).
Melalui siaran pers yang diterima Trilogi, kegiatan tersebut menghadirkan akademisi dan pakar komunikasi politik Taufik Lasenggo, S.Sos., M.Si., serta Ketua Forum Mahasiswa Indonesia Timur (FORMIT), Athif Muhyiddin Hishad.
Diskusi membahas berbagai isu yang berkembang di masyarakat, mulai dari kondisi ekonomi nasional, gerakan mahasiswa, komunikasi politik digital, hingga kemungkinan lahirnya gelombang reformasi baru di Indonesia.
Athif Muhyiddin Hishad menilai persatuan gerakan mahasiswa menjadi faktor penting dalam mengawal berbagai kebijakan publik.
Menurutnya, banyak gerakan mahasiswa yang memiliki tujuan serupa, namun gagal membangun kekuatan besar akibat ego sektoral dan rendahnya kepercayaan antarkelompok.
“Tujuan kita satu. Melenceng tujuan, tidak saling percaya, selesai. Walaupun sudah saling satu tujuan, ada lagi ego sentris itu,” ujar Athif.
Ia menjelaskan bahwa berbagai aksi mahasiswa saat ini pada dasarnya membawa tuntutan yang hampir sama, seperti evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), peninjauan kembali RUU TNI dan Polri, hingga percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset.
Namun, menurutnya, perbedaan identitas kelompok dan ego organisasi sering kali menjadi penghambat lahirnya gerakan yang lebih solid dan terorganisir.
Dalam kesempatan yang sama, Taufik Lasenggo menyoroti perubahan lanskap gerakan sosial di era digital.
Ia menilai pertarungan politik saat ini tidak lagi hanya terjadi di ruang fisik, melainkan juga berlangsung di ruang digital melalui pembentukan opini publik.
