PALU – Tekanan krisis energi Indonesia kian terasa seiring memanasnya konflik antara Iran melawan AS–Israel.

Ketegangan geopolitik yang belum menemukan titik temu tersebut berdampak luas, termasuk pada sektor energi global yang berimbas langsung ke dalam negeri.

Di Indonesia, situasi ini tercermin dari kenaikan harga BBM dan gas elpiji nonsubsidi.

Kondisi tersebut turut memicu kenaikan harga bahan baku plastik yang membebani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Meski pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, keresahan publik sulit dihindari di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.

Padahal, Indonesia memiliki potensi besar untuk keluar dari jerat krisis energi.

Kekayaan sumber daya alam, ketersediaan lahan, serta dukungan sumber daya manusia menjadi modal penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Salah satu solusi yang mulai dilirik adalah pengembangan energi terbarukan berbasis biofuel.

Biofuel atau bahan bakar nabati dinilai relevan sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil.

Secara umum, biofuel terbagi dalam tiga jenis utama, yakni biodiesel yang berasal dari minyak nabati seperti kelapa sawit dan minyak jelantah, bioetanol dari bahan berpati seperti tebu dan jagung, serta biogas yang dihasilkan dari fermentasi sampah organik.

Ketersediaan bahan baku biofuel di Indonesia tergolong melimpah. Bahkan, sebagian besar dapat diperoleh dari limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Namun, pengembangan energi terbarukan ini dinilai masih minim dukungan, baik dari sisi kebijakan maupun implementasi di lapangan.

Potensi tersebut terlihat jelas di Kota Palu. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), produksi sampah di kota ini mencapai sekitar 79 ribu ton per tahun atau lebih dari 200 ton per hari.

Mayoritas sampah tersebut merupakan sampah organik yang berpotensi diolah menjadi sumber energi alternatif.

Inisiatif pemanfaatan sampah organik menjadi biofuel mulai dilakukan oleh mahasiswa di bawah bimbingan Muhammad Sadig.

Melalui budidaya maggot, mereka mengolah limbah organik menjadi pakan ternak berprotein tinggi sekaligus menghasilkan residu yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk alami.

Pengolahan ini tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi sektor peternakan dan pertanian.

Model ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat menjadi solusi terintegrasi bagi persoalan lingkungan dan energi.

“Inisiatif ini telah berjalan selama tiga tahun tanpa sentuhan dari pemerintah,” ujar Sadig dalam wawancara bersama Athif Muhyiddin Hishad.

Upaya tersebut juga sejalan dengan arahan Prabowo Subianto terkait pengelolaan sampah, serta gagasan ekoteologi yang disampaikan Nasaruddin Umar.

Selain itu, Pemerintah Kota Palu di bawah kepemimpinan Hadianto Rasyid turut mendorong pengelolaan sampah yang lebih efektif.

Ke depan, sinergi antara pemerintah dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam mengembangkan biofuel sebagai energi alternatif.

Tanpa dukungan kebijakan yang kuat dan kolaborasi lintas sektor, potensi besar ini dikhawatirkan sulit berkembang secara optimal.

Di tengah krisis energi Indonesia yang terus berlanjut, inovasi berbasis sumber daya lokal seperti biofuel menawarkan harapan baru.

Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai, pada akhirnya dapat menjadi solusi strategis menuju kemandirian energi nasional.