Langkah agresif Pemerintah Kabupaten Buol dalam Revitalisasi Penerangan Jalan Umum Buol memantik perhatian : ribuan titik lampu dipasang, biaya listrik justru ditekan, dan skema pembayaran ditunda hingga Agustus 2026, sebuah manuver berani yang menggabungkan pelayanan publik dan efisiensi anggaran sekaligus.
Buol — Pemerintah Kabupaten Buol mempercepat realisasi program Revitalisasi PJU Buol bertajuk “Buol Terang”, sebuah proyek strategis yang tak hanya menyasar penerangan jalan, tetapi juga mengubah wajah layanan publik di daerah tersebut.
Proyek ini digarap oleh PT Solarens Ledindo dengan nilai kontrak mencapai Rp27,617 miliar.
Skema pembiayaan program ini tergolong tidak lazim. Pemerintah daerah tidak langsung membayar di awal, melainkan menggunakan sistem pembayaran bertahap yang baru dimulai pada triwulan III atau Agustus 2026.
Selama masa kontrak tiga tahun, biaya pemeliharaan sepenuhnya ditanggung oleh pihak penyedia.
Di lapangan, pekerjaan sudah berjalan. Pihak ketiga mulai melakukan pengecekan titik-titik pemasangan lampu yang tersebar di berbagai wilayah.
Tahap awal difokuskan pada kawasan perkotaan sebelum diperluas ke wilayah pedesaan.
Program Revitalisasi Penerangan Jalan Umum Buol ini menargetkan pemasangan 2.500 titik lampu baru, terdiri dari 2.000 unit berkapasitas 40 watt dan 500 unit 70 watt, termasuk tiang lampu dekoratif.
Distribusinya tidak hanya terpusat di Kecamatan Biau sebagai ibu kota kabupaten, tetapi juga menjangkau 10 kecamatan lain hingga akses menuju kawasan wisata.
Kawasan perkotaan menjadi prioritas awal dengan fokus pada titik-titik strategis mulai dari daerah rawan kecelakaan lalu lintas, kawasan berpotensi kriminalitas, hingga pusat aktivitas ekonomi dan UMKM.
Pemerintah berharap, pencahayaan yang memadai dapat meningkatkan rasa aman sekaligus memperpanjang aktivitas ekonomi masyarakat di malam hari.
Selama ini, kondisi penerangan jalan di Buol tergolong minim.
Dari sekitar 450 titik lampu yang tersedia, sebagian besar masih menggunakan teknologi merkuri yang boros energi dan kurang optimal dalam pencahayaan.
Melalui penggunaan teknologi LED dalam program Buol Terang, pemerintah daerah menargetkan efisiensi signifikan.
Dengan penerimaan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU) sekitar Rp4 miliar pada 2025, beban listrik sebelumnya mencapai Rp2,7 miliar per tahun.
Setelah revitalisasi, biaya tersebut diproyeksikan turun menjadi sekitar Rp1,7 miliar, berdasarkan perhitungan teknis.
Efisiensi ini bahkan disebut dapat lebih besar. Dengan peningkatan jumlah lampu hingga 2.500 titik, beban listrik justru diperkirakan lebih rendah dibanding sebelumnya sebuah paradoks yang menjadi nilai jual utama program ini.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, Revitalisasi PJU Buol diposisikan sebagai bagian dari strategi pembangunan yang lebih luas.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa program ini berjalan beriringan dengan agenda lain seperti penanganan kemiskinan, stunting, pembangunan jalan, pendidikan, dan kesehatan.
Penerangan jalan juga dipandang sebagai hak masyarakat. Setiap bulan warga telah membayar pajak penerangan melalui tagihan listrik, sehingga program ini menjadi bentuk pengembalian layanan dalam wujud nyata.
“Buol harus terang,” menjadi semangat yang diusung dalam program ini. Pemerintah ingin memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti pada janji, melainkan hadir dalam bentuk yang bisa langsung dirasakan masyarakat.
Dengan slogan “Buol Terang: Bukti Komitmen, Bukan Sekadar Janji”, proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor pariwisata secara berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, langkah ini menjadi sinyal bahwa inovasi kebijakan bahkan dengan skema pembiayaan yang tidak konvensional dapat menjadi kunci percepatan layanan publik yang lebih merata dan efisien.



