Menurut Afdal, dirinya selaku warga Morowali, sangat merasakan imbas dari semakin parahnya rusak pada jalan nasional itu. “Sangat merugikan. Distribusi ekonomi menjadi terganggu. Resiko hilangnya nyawa karena kondisi jalan, menjadi lebih besar. Korban sudah berjatuhan. Hal ini harus disikapi dengan serius”, katanya.
Afdal menegaskan, bahwa kuat dugaan, ada praktik asal kerja, lemah pengawasan dan kongkalikong dalam gelontoran puluhan miliar dana untuk pembiayaan jalan tersebut.
“Kami sangat menyangkan pihak pelaksana kegiatan yang acuh tak acuh dengan kondisi jalan yang semakin memburuk. Patut diduga ada praktik curang dalam gelontoran uang negara ini”, tegasnya.
Taufik, selaku Kepala Satker PJN III Sulteng, belum dapat dikonfirmasi terkait amburadul hasil kerja pada ruas dalam “kendalinya” tersebut. Jemmy, selaku PPK disebut sedang di luar kota.
AMBURADUL RUAS BUNGKU-BATAS SULTRA, SATKER DAN PPK PILIH BUNGKAM
Taufik, Kepala Satuan Kerja (Satker) dan anak buahnya Jimmy Adwang selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Jalan Nasional (PJN) III Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) memilih bungkam dan enggan berikan komentar terkait “morat-marit” pengerjaan proyek preservasi jalan pada ruas Bungku-Batas Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bernilai ratusan miliar rupiah.
Bahkan, kedua pejabat berwenang terhadap kelola uang negara tersebut, terkesan “alergi” dan menghindari para kuli tinta. Kasatker PJN III sulteng, Taufik, dinyatakan sedang tidak berada ditempat, ketika mau ditemui untuk dikonfirmasi. Konfirmasi via telepon kepada kedua pejabat publik ini pun, sama sekali tak digubris.
