Sigi – Dalam sebuah seminar dan bedah buku yang memecah pendapat, DEMA FTIK UIN Datokarama Palu menggali sisi kontroversial mantan Presiden Soeharto, menantang pandangan masyarakat tentang warisan Orde Baru.
Apakah Soeharto benar-benar pahlawan nasional yang membawa Indonesia menuju kemajuan, atau justru sosok otoriter yang meninggalkan luka mendalam? Temukan jawabannya dalam diskusi yang melibatkan tokoh-tokoh nasional dan pemikir kritis di dunia pendidikan dan politik!.
Berdasarkan pers rilis yang diterima Trilogi, Jumat 7 November 2025, tentang Seminar bertajuk “Mengenang Romantisme Orde Baru, Para Pemimpin Bangsa dan Bedah Buku: Soeharto Memang Hebat” ini bertujuan menjadi wadah diskusi yang reflektif mengenai pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional.
Menariknya, acara ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sejarah, namun juga mempertemukan berbagai pandangan tentang warisan politik Soeharto yang hingga kini menjadi bahan perdebatan.
Sejumlah tokoh penting turut meramaikan acara ini. Di antaranya, Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., yang hadir sebagai keynote speaker.
Selain itu, Prof. Dr. H. Lukman S. Thahir, M.Ag, Rektor UIN Datokarama, dan Prof. Dr. H. Saepudin Mashur, S.Ag., M.Pd.I, Dekan FTIK, turut berbagi perspektif mereka.
Tidak ketinggalan, penulis buku Wawan H. Purwanto, pengamat politik Rey Rangkuti, serta sejarawan Muhammad Nur Ahsan dan pemerhati gerakan mahasiswa Muhammad Sadig, turut meramaikan diskusi dengan pandangan mereka.
Soeharto, yang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia selama lebih dari tiga dekade, dikenal dengan prestasinya dalam menurunkan inflasi, menciptakan kemandirian pangan, serta membangun infrastruktur.
Namun, tidak sedikit pula yang mengkritik kepemimpinannya, terutama terkait pelanggaran HAM, korupsi, dan sentralisasi kekuasaan yang dianggap otoriter.
Dalam seminar ini, Wawan Purwanto membela sosok Soeharto sebagai pahlawan nasional, mengingat berbagai kontribusinya yang membentuk Indonesia modern.
Sementara itu, Rey Rangkuti, yang juga aktif sebagai aktivis ’98, menentang pandangan tersebut, menekankan bahwa pemerintahan Soeharto cenderung mengabaikan asas keadilan sosial dan lebih memprioritaskan kekuasaan di tangan segelintir elit.
Ketua DEMA FTIK, Ridzki Efendi, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar seminar ini bisa menjadi bukti bahwa kampus dapat menjadi media penengah bagi pro dan kontra terkait pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional.
“Kami berharap, melalui seminar ini, kampus bisa menunjukkan peran aktif dalam memfasilitasi diskusi yang sehat dan konstruktif. Kami tidak hanya menghadirkan pembicara dari satu sisi, tetapi dari dua perspektif yang berbeda,” ujarnya.
Dengan mengangkat tema yang tengah hangat diperbincangkan di media sosial dan ruang publik, seminar ini diharapkan dapat meningkatkan reputasi FTIK sebagai lembaga pendidikan yang mampu mengadakan diskusi berkualitas dan relevan dengan isu-isu nasional.
Ridzki juga berharap acara ini dapat mempercepat pembangunan fasilitas di Kampus Dua, serta menarik lebih banyak mahasiswa untuk bergabung dengan UIN Datokarama.
Seminar dan bedah buku Orde Baru ini menjadi contoh nyata bagaimana DEMA FTIK UIN Datokarama tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga wadah diskusi yang menyentuh isu penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.



