“Kami akan memperhatikan keputusan, harapan dan harapan saudara-saudara yang terdampak bencana. Mari kita berteman dengan bencana, dengan mempersiapkan diri agar lebih waspada,” katanya.
Kegiatan pembacaan doa tahlil peringatan setahun bencana khususnya mengenang para korban likuefaksi Balaroa, banyak di antara mereka menangis karena mengenang para korban gempa berkekuatan 7,4 skala richter dan likuefaksi yang meluluh lantakkan perkampungan perumnas Balaroa 28 September tahun lalu.

Sekitar 4.300 orang dinyatakan meninggal atau hilang dan hampir 60.000 orang masih hidup dalam tempat-tempat penampungan sementara setelah rumah mereka hancur, menurut Palang Merah.
Guncangan yang sangat hebat menyebabkan banyak permukiman rata dengan tanah.
Bencana itu juga menghancurkan kapal-kapal nelayan, toko-toko, dan sistem irigasi, sehingga banyak orang kehilangan mata pencaharian.
Penulis : Wahyudi / Koran Trilogi
