
“Campuran material untuk pengecoran, banyak menggunakan batu asalan dengan ukuran bervariasi. Makanya, dipinggir jalan selesai di rabat banyak batu besar” bebernya, “Itu mereka singkirkan, karena kebesaran batunya dan tidak bisa tertanam di dalam campuran”.
Perencanaan program rekontruksi dan rehabailitasi proyek jalan akses danau lindu yang dibandrol Rp79,5 miliar di tenggarai kasak-kusuk dan menyeret pelaksana proyek PT Sarana Multi Usaha ke pusaran masalah.
Kualitas penggunaan material untuk item pekerjaan rabat beton dengan lebar 3 meter sejauh 17 Km sangat diragukan kualitasnya. Perlu pelibatan ahli kontruksi independen untuk menguji kualitas mutu beton sepanjang yang sudah ditangani.
Permintaan itu perlu dilakukan, sebab proses pelaksanaan pekerjaan oleh rekanan BPJN Sulawesi Tengah untuk pemenuhan akses jalan yang sudah menguras kas Negara itu, ditenggarai berpotensi bocor dan merugikan keuangan yang sudah dibayarkan pada proyek itu.
Dihubungi via whatsap pada akhir Februari lalu, kedua pejabat di lingkup BPJN Sulawesi Tengah, Kepala Balai, Dadi Murdadi bersama Kasatker PJN wilayah 1 Provinsi Sulawesi Tengah, Dedy Junaidi, belum dapat dikonfirmasi terkait dengan persoalan yang terjadi pada paket senilai Rp79,5 miliar itu.
Hanya saja keduanya sepakat menjawab masih berada kunjungan kerja diluar daerah. Sampai dengan berita ini diterbitkan, BPJN Sulawesi Tengah, belum dapat dikonfirmasi atas persoalan yang melilit pada proyek dengan Nomor kontrak : HK.02.0-Bb14.5.6/LINDU/JICA-IRSL/01 itu.
“Saya otw cek lokasi pak bersama Kasatker. Insyaallah besok sy sampaikan tanggapanya” tulis Dadi Murdadi pada chat yang dikirim per tanggal 27 Februari 2024 itu. Pesan serupa juga ikut ditulis oleh Kasatker PJN wilayah 1 “Saat ini teman-teman PPK sedang menyiapkan konfirmasi terhadap beberapa pertanyaan” ujar Dedy Junaidi melalui pesan whatsap.
Langkah BPJN Sulteng berjanji akan memberikan informasi terkait dengan penanganan paket akses jalan danu Lindu tersebut, lantas kemudian dinilai janggal. Alih-alih memberikan informasi persoalan yang melilit pada proyek kakap itu, kedua pejabat tersebut ditenggarai terkesan sedang menutup kelemahan pada proyek tersebut.
Hasil pantauan dilokasi proyek beberapa waktu yang lalu, ditemukan hanya beberapa orang pekerja yang aktif melakukan pengecoran rabat. Sebagian juga pekerja sedang mengerjakan pemasangan pembatas jalan dan sebagian membersihkan longsoran.
Namun, pada proses pelaksanaan di waktu itu, tidak ditemukan pengawas yang ikut mengawasi jalanya pelaksanaan proyek yang sudah menguras kas Negara itu.
