“Dengan ini harapan kami masyarakat benar-benar bisa memanfaatkannya untuk belajar, berusaha, dan meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Arfan.
Dalam implementasinya, Program Berani Menyala Sentuh Pelosok menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan.
Kondisi wilayah Sulawesi Tengah yang berbukit, banyak daerah terpencil, hingga keterbatasan akses infrastruktur dasar menjadi hambatan utama percepatan elektrifikasi desa.
Selain itu, biaya penyambungan listrik yang masih memberatkan masyarakat miskin, cuaca ekstrem, serta distribusi logistik material ke pelosok turut memperlambat pembangunan jaringan listrik.
Namun, ESDM Sulteng tetap menjalankan strategi bertahap dengan memprioritaskan desa yang telah siap jaringan PLN sambil mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung lainnya.
Arfan menegaskan, bantuan kWh meter gratis Sulawesi Tengah diberikan melalui proses verifikasi data bersama pemerintah kabupaten dan PT PLN (Persero).
Prioritas utama diberikan kepada keluarga miskin ekstrem yang masuk desil 1 sampai desil 4 berdasarkan data DTSEN, rumah tangga yang belum memiliki meteran listrik, dan daerah dengan rasio elektrifikasi rendah.
Program Berani Menyala juga mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid.
Menurut Arfan, koordinasi antara Pemprov Sulteng, PLN Sulutenggo, dan pemerintah kabupaten berjalan sangat baik untuk mempercepat pembangunan jaringan, gardu listrik, hingga sambungan rumah tangga.
