Lapisan AC-WC menjadi bagian penting dari struktur perkerasan karena menjadi lapisan permukaan yang bersentuhan langsung dengan kendaraan.
Jalan yang lebih mantap dan dapat digunakan sepanjang tahun akan memberi efek langsung terhadap mobilitas masyarakat.
Kendaraan pengangkut hasil pertanian dapat bergerak lebih lancar, sementara biaya operasional perjalanan berpotensi lebih terkendali dibanding ketika harus melewati jalan tanah dan berlumpur.
Artinya, pembangunan jalan berpotensi memberikan dampak berantai terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Hasil bumi dari kawasan produksi dapat lebih mudah dibawa keluar. Pedagang memperoleh akses transportasi yang lebih baik, sementara masyarakat mendapatkan jalur mobilitas yang lebih aman.
Salah satu bagian strategis dalam proyek ini adalah pembangunan Jembatan Limpas Oyom 1 dengan bentang 35 meter.
BACA JUGA : Anwar Hafid Keluarkan ‘Jurus Jitu’ Berani Cerdas Sulteng, Bawa Beasiswa ke Panggung Nasional
Jembatan tersebut dirancang menggunakan pondasi sumuran dengan konstruksi girder baja bentang 35 meter.
Keberadaan jembatan menjadi penting karena Sungai Oyom sebelumnya merupakan salah satu titik yang dapat menghambat mobilitas masyarakat ketika debit air meningkat.
Dengan konstruksi permanen tersebut, akses diharapkan menjadi lebih andal dibanding mengandalkan kondisi badan jalan dan lintasan sungai yang sangat dipengaruhi cuaca.
Selain jembatan, pembangunan deuker plat dan box culvert juga menjadi bagian dari sistem drainase dan pengendalian aliran air pada ruas tersebut.
Bagi proyek jalan di wilayah dengan tantangan geografis dan curah hujan tinggi, konstruksi pendukung semacam ini menjadi bagian penting untuk menjaga umur layanan jalan.
Dalam jangka panjang, nilai strategis proyek Jalan Provinsi Sulteng 2026 ini berada pada fungsi konektivitasnya.
Ruas SP. Lampasio–Muliasari diproyeksikan menjadi bagian dari jalur yang menghubungkan kawasan tersebut menuju Muliasari–Kokobuka–Air Terang, hingga terkoneksi dengan Kabupaten Buol.


