CEO Aslan Energy Capital, Muthu Chezian, mengungkapkan pihaknya telah mempelajari KEK Palu cukup lama sebelum memutuskan berinvestasi.
Menurutnya, ketersediaan sumber daya nikel menjadi daya tarik utama karena Indonesia memiliki kebijakan hilirisasi yang mendorong pengolahan mineral di dalam negeri.
Ia juga melihat potensi besar penggunaan teknologi BESS untuk mendukung kebutuhan data center global.
Saat ini, banyak pusat data mulai beralih dari sistem UPS tradisional menuju Battery Energy Storage System karena dinilai mampu meningkatkan standar pusat data dari tier 2 menjadi tier 3 bahkan tier 4.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bangun Palu Sulawesi Tengah, Sony Panukma Widianto, memastikan pihaknya siap memfasilitasi kebutuhan sekitar 40 hektare lahan industri guna mendukung pembangunan gigafactory tersebut.
Infrastruktur dan fasilitas pendukung juga dipastikan akan dipersiapkan agar ekosistem industri baterai dapat berkembang optimal di KEK Palu.
Pemerintah berharap proyek strategis ini segera terealisasi untuk memperkuat posisi KEK Palu sebagai pusat energi bersih dan hilirisasi nikel Indonesia.
Selain meningkatkan investasi, proyek ini juga diharapkan mendorong Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia.
