Model tersebut sejalan dengan agenda Gubernur Anwar Hafid hilirisasi komoditas, terutama dalam mendorong komoditas lokal agar memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.
BACA JUGA : China-Sulteng Makin Mesra | Usai Dagang Durian Kini Diam-Diam Buka Rute Penerbangan
Pengembangan Ice Cream Nambaso hanyalah salah satu contoh produk. KADIN juga membuka ruang untuk pengembangan olahan cokelat dan kopi Sulawesi Tengah serta berbagai produk turunan lainnya.
Artinya, komoditas yang selama ini keluar dalam bentuk bahan mentah diupayakan memiliki tahapan pengolahan lebih panjang di daerah.
Jika ekosistem tersebut berjalan, petani tidak hanya berhubungan dengan pasar bahan baku, tetapi dapat terhubung dengan industri pengolahan yang membutuhkan pasokan secara berkelanjutan.
Tahap berikutnya akan mencakup penyiapan bahan baku, investasi, teknologi, sertifikasi, pengembangan merek, hingga strategi ekspor.
Kerja sama ini berlangsung dalam momentum Deklarasi Perkarantinaan Sulteng 2026, yang mengusung gerakan 1.000 pengusaha UMKM dari Bumi Tadulako menuju pasar global.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri UMKM Maman Abdurrahman, Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, Wakil Gubernur Reny Lamadjido, serta Ketua Umum KADIN Sulawesi Tengah Gufran Ahmad.
Agenda tersebut mempertemukan pemerintah, KADIN, pelaku industri dan UMKM dalam satu ekosistem pengembangan produk lokal.
Melalui Gerakan 1000 pengusaha UMKM Bumi Tadulako, pengembangan produk lokal diarahkan tidak hanya mengejar jumlah pelaku usaha, tetapi juga peningkatan kualitas produk dan akses pasar.
Dengan demikian, kerja sama KADIN Sigi, Poso, Morowali, dan Parigi Moutong bersama Surya Getto diharapkan menjadi tahap awal membangun rantai hilirisasi yang lebih terintegrasi.
Bagi Sulteng, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan durian, kopi, kelapa dan kakao, tetapi bagaimana membuat komoditas tersebut gak cuma “gitu-gitu aja” ketika sampai ke tangan konsumen.


