Palu – Pembangunan jalan layang Rajamoili Cut Mutia di Kota Palu memasuki tahap akhir.
Hingga Januari 2026, progres fisik segmen elevated road pada ruas tersebut telah mencapai 95,489% dan masih bergerak sesuai dengan target yang ditetapkan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.5 Provinsi Sulawesi Tengah, Rizky Ananda, ST., M.Eng., melalui keterangan tertulis menyampaikan bahwa sebagian besar pekerjaan utama pada segmen ini telah diselesaikan.
Sejumlah item krusial seperti pengaspalan, marka jalan, serta pekerjaan Jembatan Komodo telah rampung dan siap mendukung operasional jalan layang.
“Secara keseluruhan progres fisik sudah di atas 95%. Item pekerjaan utama pada segmen elevated road Rajamoili–Cut Mutia sudah selesai, termasuk pengaspalan dan marka jalan,” ujar Kiki.
Saat ini, sisa pekerjaan difokuskan pada penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang menjadi bagian dari pengembangan kawasan di sekitar jalan layang.
Penyelesaian pekerjaan tersebut ditargetkan rampung pada 31 Januari 2026.
Dari sisi pelaksanaan di lapangan, kondisi terakhir penanganan proyek elevated road dinilai masih terkendali.
Meski demikian, faktor cuaca ekstrem menjadi tantangan teknis yang paling berpengaruh terhadap ritme pekerjaan dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, kendala tersebut belum berdampak pada perubahan target penyelesaian proyek.
“Pencapaian di lapangan masih sesuai target. Cuaca ekstrem memang menjadi kendala utama, tetapi masih dapat dikelola,” kata Kiki.
Segmen proyek elevated road Rajamoili Cut Mutia ini merupakan bagian dari Paket A1 Kota Palu yang mencakup penanganan 16 ruas jalan dengan total panjang 16,255 kilometer.
Khusus ruas Jalan Rajamoili–Cut Mutia, penanganan dilakukan sepanjang 2,121 kilometer.
Proyek A1 Kota Palu menggunakan skema pembiayaan Infrastructure Reconstruction Sector Loan (IRSL), hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).
Pelaksanaan konstruksi dikerjakan oleh PT Bumi Duta Persada berdasarkan kontrak bernomor HK.02.01/IRSL-A1/Bb14.6.5/01.
Dari sisi teknis, desain elevated road Rajamoili Cut Mutia mengedepankan peninggian badan jalan setinggi 3 hingga 4 meter.
Pendekatan ini dipilih untuk meningkatkan kapasitas jalan sekaligus memperkuat fungsi proteksi terhadap potensi bencana, terutama di kawasan pesisir Kota Palu.
Item pekerjaan unggulan pada segmen ini antara lain penggunaan blok beton serta penataan RTH yang dilengkapi elemen ikon kawasan berupa patung kuda.
Selain itu, proyek ini mengadopsi dua metode perlindungan utama terhadap risiko tsunami dan pergerakan tanah, yakni Toe Protection dan Retaining Wall.
Toe Protection diterapkan pada area yang memiliki ketersediaan lahan cukup dengan memanfaatkan block armor sebagai peredam energi gelombang laut.
Sementara Retaining Wall digunakan di lokasi dengan keterbatasan ruang untuk menjaga stabilitas struktur jalan layang, terutama di kawasan yang rawan pergeseran tanah akibat gempa.
Dengan pendekatan teknis tersebut, jalan layang Rajamoili Cut Mutia diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi kemacetan Rajamoili Cut Mutia sekaligus memperkuat konektivitas antarwilayah di dalam Kota Palu.
Pemerintah memastikan tidak terdapat penambahan maupun perubahan lingkup pekerjaan pada segmen elevated road, sehingga pelaksanaan proyek tetap berjalan sesuai rencana awal.
Seiring mendekati tahap akhir, progres pembangunan elevated road Rajamoili Cut Mutia kini difokuskan pada penyempurnaan kawasan pendukung agar jalan layang ini dapat segera dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.



