Pekerjaan dengan anggaran sekitar Rp7,1 miliar tersebut diarahkan untuk memperkuat jalur yang menjadi bagian dari pergerakan logistik sejumlah perusahaan industri, termasuk PT SEI, PT GNI, PT NNI dan PT Bumanik.
Penggunaan beton rigid menjadi pilihan karena ruas tersebut berhadapan dengan intensitas kendaraan berat yang relatif tinggi.
“Kami menggunakan desain Beton Rigid dengan mutu Fs 4.5 (Flexural Strength) berketebalan 25 sentimeter dan lebar 6 meter,” jelas Stenly.
Menurut dia, konstruksi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan durabilitas jalan sehingga kebutuhan pemeliharaan dapat ditekan dalam jangka panjang.
Skema KSPU juga menyasar Jalan Bahonsuai Bungku yang menjadi bagian dari konektivitas menuju kawasan industri PT BTIIG.
Peningkatan dilakukan sepanjang 331 meter dengan lebar 6 meter dan ketebalan 25 sentimeter menggunakan Beton Rigid Fs 4.5. Nilai pekerjaan tersebut sekitar Rp1,2 miliar.
Yang menarik, pekerjaan tidak hanya berhenti pada penguatan struktur jalan. BPJN Sulteng juga membangun sistem drainase berupa cross drain dengan Box Culvert Desa Tondo berukuran 1,5 x 1,5 x 11 meter.
BACA JUGA : Jalan Nasional Sulawesi Tengah 586 Km Dikebut, Progres 86,75% di Tengah Ancaman Longsor
Infrastruktur drainase tersebut disiapkan untuk memperlancar aliran air dan mengurangi potensi genangan yang dapat mengganggu fungsi jalan.
Selain dua pekerjaan tersebut, KSPU PPK 4.3 Sulteng juga mencakup penanganan Ruas Keuno-Bahonsuai sepanjang 100 meter.
Pekerjaan yang dilaksanakan oleh PT Alaska tersebut kini telah mencapai progres fisik sekitar 90% dan memasuki tahap akhir penyelesaian.
Ketiga pekerjaan tersebut menunjukkan pola penanganan infrastruktur yang tidak berdiri sendiri.


