Karena melalui proses pemurnian yang ketat sekali, gula rafinasi ini punyai warna lebih putih dan ceria dibandingkan gula kristal putih (GKP). Kadar keputihan (ICUMSA)-nya capai 45. Jauh di atas barisan gula untuk makanan (food grade) dengan kandungan ICUMSA 100-150.
Butiran kristalnya lebih lembut dan halus. Tidaklah aneh jika industri pangan cenderung pilih gula rafinasi walau dibikin berbahan baku raw sugar import. Umumnya gula yang berwarna putih sekali malah semakin banyak dicintai, walau sebenarnya bisa saja itu gula rafinasi lho.
Gula rafinasi tergolong beresiko bila dikonsumsi langsung sebab bisa mengakibatkan beragam permasalahan kesehatan
Jangan remehkan gula rafinasi ini ya, karena bila dimakan secara terus-terusan dengan menambah langsung pada minuman atau makanan, justru akan memunculkan bahaya kesehatan. Karena tingkat kemurniannya yang tinggi sekali, saat gula ini dimakan, badan akan memerlukan vitamin B kompleks, kalsium, dan magnesium untuk mengolahnya.
Secara tiba-tiba badan dapat ‘mencuri’ vitamin B kompleks dari mekanisme saraf hingga dapat mengakibatkan stres atau penyelewengan sikap. Badan akan ambil kalsium dan magnesium dari gigi dan tulang hingga memacu osteoporosis.
Tidak hanya itu, karena gula ini gampang sekali terpecah jadi glukosa, resiko diabetes tidak bisa dijauhi oleh orang yang mengkonsumsinya. Saat diserap darah, gula rafinasi dapat tutup molekul protein di kulit, hingga bila konsumsinya teratur dilaksanakan akan menyebabkan penuaan awal di kulit, seperti kulit lusuh dan gelap.
Nach, lho, seram ‘kan? Gula biasa saja sudah banyak menimbulkan permasalahan kesehatan jika dimakan terlalu berlebih. Apa lagi gula rafinasi yang pasti dilarang pemerintahan buat dikonsumsi sembarangan. Sebagai customer, kita harus pandai-pandai pilih yang mana sehat yang mana tidak nih.
