Hilirisasi juga menjadi bagian penting dalam membangun bisnis durian Sulteng.
Produksi, pengemasan, pemasaran, perizinan hingga distribusi harus diperkuat agar produk mampu memenuhi standar dan kebutuhan pasar ekspor.
Anwar berharap pengembangan durian dilakukan secara berkelanjutan dengan menjaga kualitas serta kontinuitas pasokan.
Targetnya, Sulteng mampu memenuhi kebutuhan pasar sepanjang tahun.
Langkah tersebut menjadi penting jika Sulawesi Tengah ingin memperbesar ekspor durian ke China dan memperluas pasar durian Sulteng ke negara lainnya.
Untuk memperkuat identitas produk, Sulawesi Tengah mengusung branding “Durian Vulcano Indonesia” sebagai ciri khas durian daerah.
Branding tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing durian Indonesia, khususnya durian Sulawesi Tengah, ketika masuk ke pasar nasional maupun internasional.
Kegiatan “Berani Merdeka Ekspor Durian” juga dirangkaikan dengan launching dashboard potensi komoditi pertanian.
Kegiatan itu dihadiri Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian, Dr. Fausiah T. Ladja, S.P.M., M.Si., Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si., Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin, S.E., M.AP., Wakil Bupati Morowali Irine Ilyas, Ketua TP-PKK Sulawesi Tengah Ny. Sry Nirwanti Bahasoan, serta kepala OPD lingkup Pemprov Sulteng.
Bagi Anwar Hafid, penguatan produksi, konektivitas, infrastruktur pendukung, perizinan dan kolaborasi pemerintah dengan dunia usaha menjadi kunci agar ekspor durian Sulteng semakin kuat.
Dengan target menjadi “raja durian dunia”, Sulawesi Tengah kini menyiapkan durian sebagai salah satu komoditas unggulan untuk mengerek perekonomian masyarakat sekaligus membuka pintu pasar global.
China pun menjadi salah satu pasar yang dibidik dalam perjalanan tersebut hingga slogan “mabuk durian” bukan sekadar permainan kata, melainkan gambaran ambisi Sulteng membawa duriannya semakin jauh ke pasar dunia.
