“Dari sisi rasa, durian kita tidak kalah. Ini peluang besar bagi Sulawesi Tengah,” katanya.
Karena itu, ekspor durian Sulawesi Tengah diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga memperkuat posisi komoditas daerah di pasar internasional.
Ambisi menjadikan Sulteng sebagai “Raja Durian Dunia” tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian.
Anwar Hafid meminta pemerintah dan dunia usaha mengambil peran sesuai fungsi masing-masing.
Pemerintah, kata dia, harus bertindak sebagai regulator dengan menciptakan regulasi dan pelayanan yang memudahkan investasi serta perkembangan usaha.
Sementara dunia usaha berperan sebagai operator yang menggerakkan produksi dan kegiatan ekspor.
“Kalau kita mau sukses, tidak boleh ada ego sektoral. Kuncinya adalah kolaborasi. Pemerintah memberi ruang dan dukungan, dunia usaha bergerak di depan,” tegasnya.
Anwar juga meminta pemerintah kabupaten dan kota ikut memperkuat ekosistem durian.
Dukungan itu mencakup pembangunan packing house, rumah durian, perizinan hingga pembinaan petani.
Dengan demikian, pengembangan durian diharapkan tidak berhenti pada sektor hulu, tetapi terintegrasi hingga hilir.
Anwar Hafid menilai durian bukan sekadar komoditas pertanian. Pengembangan dan hilirisasi durian Sulteng dinilai mampu memberikan efek berganda bagi perekonomian masyarakat.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Multiplier effect dari proses hilirisasi durian ini luar biasa,” jelasnya.
