Selain kata Ahlis Djirimu, figur yang akan jadi pasangan pemimpin di Sulteng kedepan, mampu membuka kerjasama dari segala bidang salah satunya melalui hubungan dagang pada sektor pelayaran rakyat.
” Caranya ciptakan kerjasama antar daerah pesisir barat Sulawesi dan pesisir timur Kalimantan dalam wadah kerja sama Laut Sulawesi. Dalam wadah ini, lakukan MOU bilateral seperti Kabupaten Donggala dan Balikpapan baik MOU antar Pemda dan Pemkot maupun antar BUMD. Antar sesama daerah di Sulteng juga dilakukan bagi pasokan kuota di kalimantan. Lalu kemudian tentukan linimasa dan roadmap antisipasi pemindahan ibukota admistrasi negara. Jadi Bagi saya Pasangan Ahmad Ali dan Dr Hasanuddin Atjo komplit sebagai politisi-birokrasi”. kata M Ahlis Djirimu.
Selain itu, Akademisi Dr Slamet Riadi Cante MSi mengatakan figur pemimpin Sulteng kedepan di Pilkada Gubernur Sulteng tahun 2020 adalah figur yang memiliki komitmen yang tinggi dalam merespon terhadap berbagai perubahan dan peradaban baru.

Gagasan Presiden Jokowi untuk memindahkan pusat pemerintahan di Kalimantan, kata Slamet Riadi Cante, merupakan sebuah peluang bagi Pemerintah Sulteng untuk lebih memperkuat konektivitas ke ibu kota negara.
“Saya melihat wacana menduetkan H. Ahmad Ali dengan Dr.Hasanuddin Aco merupakan figur yang saling melengkapi. H. Ahmad Ali merupakan Politisi yang memiliki basis massa dan adrenalin politik yang cukup kuat. Sedangkan Dr Hasanuddin Aco merupakan sosok visioner interpreneirship birokrat enterpreneur yang memilliki pengalaman bidang pemerintahan yang mumpuni dan teruji” kata Ketua Pusat Pengkajian Politik dan Otonomi Daerah FISIP Universitas Tadulako kepada Koran Trilogi.
Demikian juga dikatakan Dr Misran Lawani bila terjadi kolaborasi politisi Nasdem Ahmad Ali, dan birokrat intepreneur Dr. Hasanuddin Atjo, merupakan kolaborasi yang sangat ideal untuk berkontestasi pada Pilkada 2020. Pasangan ini diprediksi akan mendapat dukungan yang signifikan dari masyarakat Sulteng.

Dengan latar belakang karier yang berbeda kata, Misran Lawani, dari keduanya akan menjanjikan perubahan besar dalam menata pembangunan di Sulteng ke depan.
“Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, sehingga jika dikombinasikan akan saling melengkapi dan mengisi satu sama lain” jelas Misran.
Menurutnya, banyak daerah kombinasi politisi dan birokrat seperti ini , banyak yang berhasil memimpin daerahnya. Dibanding dengan kolaborasi dengan pasangan latar belakang sama, misalnya politisi dengan politisi, akan mudah terjadi konflik dan akhirnya bercerai. Biasanya di awal pemerintah berjalan dengan mesra, tapi seiring waktu, atau dipertengahan pemerintahan, sering terjadi konflik kepentingan.
