SULTENG – Gubernur Sulteng Anwar Hafid memilih jalur politik yang berbeda dari pola umum kepala daerah yang mulai menjaga popularitas sejak awal masa jabatan.
Alih-alih berbicara mengenai peluang dua periode, Anwar Hafid justru menegaskan fokusnya pada penyelesaian janji politik kepada masyarakat.
BACA JUGA : Dari Rival Jadi Satu Meja | Ahmad Ali dan Anwar Hafid Mulai Baca Peta Politik Sulteng 2029
Sikap tersebut disampaikan Anwar Hafid dalam wawancara di Podcast Madilog Forum Keadilan TV yang dikutip pada Senin (14/9/2026).
“Saya tidak berpikir dua periode. Saya berpikir bagaimana saya menyelesaikan janji-janji saya kepada rakyat,” kata Anwar Hafid.
Pernyataan itu menjadi menarik karena disampaikan ketika masa pemerintahan Anwar Hafid bersama Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Lamadjido masih berjalan.
Dalam situasi politik seperti ini, kepala daerah umumnya memiliki insentif untuk menjaga tingkat kepuasan publik, membangun citra positif, dan menghindari kebijakan yang berpotensi menimbulkan resistensi.
Namun, Anwar Hafid justru menyatakan tidak ingin menjadikan popularitas sebagai pertimbangan utama dalam menjalankan pemerintahan.
Ia bahkan mengakui bahwa selama lima tahun kepemimpinannya akan terdapat kebijakan yang mungkin tidak membuat dirinya populer di mata sebagian kelompok.
Bagi Anwar Hafid, ukuran keberhasilan seorang kepala daerah bukan sekadar seberapa besar peluang untuk kembali terpilih.


