Iklan Header Trilogi 17 Agustus 2026

Gubernur Sulteng Anwar Hafid Pilih Jalur ‘Tidak Populer’, Strategi Tulus atau Taktik Politik Baru?

Orientasi yang ingin dibangun adalah menciptakan dampak pembangunan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Saya tidak mau berpikir populer. Saya mau berpikir bagaimana nanti tahun 2045, Sulawesi Tengah ini punya sumber daya manusia yang unggul,” ujarnya.

Sikap Gubernur Sulteng Anwar Hafid tersebut setidaknya memperlihatkan dua kemungkinan pembacaan politik.

Pertama, pernyataan itu dapat dimaknai sebagai pilihan untuk menjalankan pemerintahan dengan orientasi kebijakan, bukan elektabilitas.

Dengan tidak menjadikan pemilu berikutnya sebagai target utama, pemerintah daerah memiliki ruang lebih besar untuk mengambil keputusan berdasarkan program yang dinilai penting meski hasilnya tidak selalu langsung terlihat.

Kedua, sikap tersebut juga dapat dibaca sebagai strategi komunikasi politik.

Menampilkan diri sebagai pemimpin yang tidak mengejar popularitas justru dapat menciptakan citra berbeda di tengah masyarakat.

Ketika publik mulai jenuh dengan pencitraan politik dan manuver elektoral terlalu dini, sikap yang terlihat berjarak dari kepentingan pemilu dapat menghasilkan persepsi positif.

Dengan kata lain, pilihan untuk tidak mengejar popularitas belum tentu berarti tidak memiliki konsekuensi politik.

Justru sebaliknya, konsistensi menjalankan program tanpa terlalu memperhitungkan efek elektoral berpotensi membangun kepercayaan publik secara organik.

Halaman Selanjutnya :Namun, apakah hal tersebut memang merupakan strategi politik atau murni pilihan kepemimpinan,...