Sama ditangani oleh Rasulullah SAW dan rakyat Madinah di luar kota Madinah, yakni di padang pasir. Namun tetap dibolehkan jika dilaksanakan dalam masjid, karena warga Mekkah masih tetap melakukan dalam masjid.
9. Dikerjakan di Waktu Dhuha
Sama dikerjakan di saat dhuha dan tidak dilakukan jika sudah lewat Dzhuhur. Jika terlewat dan ingin diqadha’, waktunya keesokan harinya di saat dhuha’.
Dari Abu Umair bin Anas bin Malik dia berbicara: “Paman-pamanku dari kelompok Anshor yang terhitung teman dekat Rasulullah SAW pernah bercerita padaku: Mereka berbicara,”Hilal bulan Syawal pernah ditutupi hingga kami tidak dapat melihatnya, selanjutnya besoknya kami melakukan shaum, selanjutnya menjelang sore tiba satu kelompok kafilah dan bersaksi di depan Nabi SAW jika mereka menyaksikan hilal kemarin. Karena itu Rasulullah SAW memerintah mereka untuk buka dan pergi untuk melaksankan shalat Ied keesokannya” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).
B. Ketidaksamaan Sholat Idul Fitri dan Sholat Idul Adha
Adapun ketidaksamaan di antara ke-2 shalat itu ialah dalam permasalahan waktu penyelenggaraan dan sunnah-sunnah saat sebelum shalat.
1. Sholat Idul Adha Dikerjakan Lebih Awalnya
Shalat Idul Adha disarankan untuk dilaksanakan lebih cepat ataupun lebih pagi dibanding shalat Idul Fithri. Dasarnya ialah hadits Nabi SAW :
أنَّ رَسُول اللَّهِ كَتَبَ إِلَى بَعْضِ الصَّحَابَةِ : أَنْ يُقَدِّمَ صَلاَةَ الأْضْحَى وَيُؤَخِّرَ صَلاَةَ الْفِطْرِ
Jika Rasulullah SAW memerintahkan ke beberapa shahabatnya untuk memajukan waktu shalat Adha dan mengakhirkan waktu shalat fithr. (HR. Asy-Syafi’i).
2. Disunnahkan Berpuasa Saat sebelum Shalat Idul Adha
Sebelum shalat Idul Adha disarankan untuk ‘berpuasa’ lebih dulu, semenjak shubuh sampai usai shalat. Baru kemudian disunnahkan makan, yakni makan daging sembelihan.
Dan shalat Idul Fithri dianjurkan untuk makan lebih dulu sebelum shalat. Habis makan baru shalat.
