“Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh,” kata Anwar.
Menurut Anwar, pengalamannya melihat pertanian modern di Sichuan China menunjukkan pentingnya integrasi riset, teknologi, sistem pengairan, kepastian pasar, manajemen keuangan, digitalisasi hingga hilirisasi.
Model tersebut dinilai relevan untuk menjadi referensi bagi pertanian Sulteng, meski tidak harus diterapkan secara utuh.
“Kita memang masih jauh, tetapi setidaknya kita bisa mulai. Yang paling penting adalah bibit dan hilirisasi,” ujarnya.
BACA JUGA : China-Sulteng Makin Mesra | Usai Dagang Durian Kini Diam-Diam Buka Rute Penerbangan
Anwar mengatakan penguatan bibit menjadi salah satu fondasi penting agar petani semakin mandiri.



.png)