Pemeliharaan juga menjadi penting pada sejumlah titik kritis, termasuk bangunan bagi, bangunan sadap, bangunan pengatur, gorong-gorong serta area di sekitar pintu irigasi. Titik-titik tersebut berperan dalam pengaturan muka air dan operasional jaringan.
Pemeliharaan Gumbasa juga mencakup saluran pembuang. Fungsinya memastikan kelebihan air dari daerah irigasi dapat dialirkan menuju saluran pembuang utama atau badan penerima.
Sedimentasi dan pertumbuhan vegetasi berlebihan dapat menurunkan kapasitas saluran pembuang.
Jika aliran terhambat, risiko backwater, genangan hingga banjir pada lahan pertanian ikut meningkat.
Artinya, pemeliharaan jaringan memiliki dua fungsi sekaligus, memastikan air tersedia untuk kebutuhan tanaman dan mengurangi risiko kelebihan air ketika curah hujan tinggi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari mitigasi banjir sawah sekaligus antisipasi perubahan iklim, ketika pola hujan dan kondisi hidrologi semakin sulit diprediksi.
BACA JUGA : Rehabilitasi Bendung D.I Sausu Atas Tuntas, BWS Sulawesi III Optimalkan Cofferdam dan Sungai
Kelancaran irigasi memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan produksi pertanian. Ketika distribusi air terganggu, jadwal tanam berpotensi ikut terdampak.
Sebaliknya, jaringan yang terpelihara membantu petani memperoleh layanan air secara lebih optimal.


