Pak Atjo, panggilan akrabnya meniti karier sebagai penyuluh perikanan di Dinas Perikanan Kabupaten Barru, Sulsel, segera setelah lulus Fakultas Perikanan IPB Bogor tahun 1983. Lalu di tengah tugasnya sebagai penyuluh, ia pun melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Hasanuddin beberapa tahun kemudian, begitu seterusnya hingga menyelesaikan S3 di Fakultas Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2004.
Ditarik ke Palu
Seiring peningkatan strata pendidikan, karier Atjo pun di lingkungan perikanan Sulsel terus menanjak hingga menduduki jabatan Eselon III sebagai Kepala Bidang Perikanan Budidaya DKP Sulsel, sebelum ditarik ke Palu oleh Gubernur Sulteng B. Paliuju untuk menduduki jabatan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng 12 tahun lalu.
Sejak saat itulah, Hasanuddin Atjo yang juga Ketua Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani) Sulteng itu tetap berkarya di Dinas KP. Karena ketika Gubernur Paliudju meletakkan jabatan, Gubernur Longki Djanggola pun tetap mempercayainya memimpin dinas tersebut hingga Jumat (19/7).
Sebagai Kepala Dinas KP, Atjo mencatat banyak prestasi. Salah satunya, Sulteng kini telah memiliki 4 pelabuhan perikanan besar yang dilengkapi dengan sarana dan fasilitas memadai yang memungkinkan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan ikan yakni di Donggala, Ogotua, Paranggi dan Pagimana. Dengan begitu, Sulteng pun dipilih menjadi percontohan program Sistim Logistik Ikan Nasional (SLIN) untuk menjadi pemasok ikan nasional guna menjaga stabilitas pangan dan kebutuhan industri perikanan di dalam negeri.

Foto Dok DKP Sulteng to Koran Trilogi
Dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat cukup nyata. Salah satu contohnya, nilai tukar nelayan (NTN) tidak pernah lagi berada di bawah 100, artinya, semua nelayan sudah bisa menabung dari hasil usahanya mencari ikan di laut. Salah satu dalilnya adalah karena dengan SLIN, harga ikan bisa cukup stabil sehingga dewasa ini, nelayan sudah jarang sekali mengeluh karena mengalami kemerosotan harga jual hasil produksi mereka.
Sebagai intelektual atau akademisi, Hasanuddin Atjo membuktikan kemampuannya dengan menemukan sistem budidaya udang Supra Intensif Indonesia yang diluncurkan secara resmi sejak tahun 2013, yang hingga saat ini menjadi teknologi budidaya udang paling produktiv di dunia karena produktivitasnya mencapai 153 ton/ha setiap musim panen.
Teknologi ini sudah diterapkan di banyak daerah bahkan oleh lembaga pangan dunia (FAO) telah mengaplikasikannya di Kamboja sekaligus memilih Dr Hasanuddin Atjo sebagai ahli FAO di bidang perudangan sejak 2017.
Teknologi ini pun praktikkan oleh Dinas KP Sulteng dan hasilnya cukup membanggakan karena memberiakn kontribusi yang cukup besar dalam pendapatan asli daeerah Sulteng.
Penyumbang PAD terbesar
“Tahun 2018, DKP menjadi penyumbang PAD terbesar di antara dinas-dinas di lingkup pertanian dengan kontribusi sekitar Rp5 miliar, yang sebagian besarnya disumbangkan oleh udang,” ujar Atjo suatu ketika.
