TERKINI
Update cepat: berita terbaru tersaji sepanjang hari.

Hujan di Hulu Banjir di Hilir

Alih fungsi hutan di daerah aliran sungai kawasan pertambangan nikel, menjadi penyebab banjir beruntun. Kawasan hutan mulai terdesak, akibat aktifitas pertambangan yang begitu masif di wilayah hulu yang melibatkan perusahaan raksasa.

Banjir yang terjadi dikawasan pertambangan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) baru-baru ini turut memberi dampak kerugian bagi ratusan rumah penduduk di desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi.

Baca Juga : HUTAN GUNDUL BANJIR MUNCUL

Peristiwa ini jelas merupakan indikasi kuat, bukti buruknya Pemerintah gagal dalam tata kelola pertambangan akibat alih fungsi hutan menjadi tambang.

Hampir sebagian desa di Kecamatan Bahodopi atau dikenal sebagai kawasan industri pertambangan terbesar se Asia Tenggara itu, menjadi langganan banjir akibat meluapnya beberapa aliran sungai disana.

Meski begitu, banjir yang terjadi pada Rabu 6 Juli 2022, itu paling tidak telah memerintahkan ratusan warga untuk mengungsi dan merusak lahan pertanian serta merendam sejumlah fasilitas publik.

“Hujan dari jam 1 siang sampai sekarang ini masih hujan. Air meluap itu di jam 3, yang banjir itu dalam pabrik di Kurisa, Tabo, Labota. Air lari kejalan semuanya, tapi cuman dibawah lutut saja” singkat Halik yang dihubungi dari Palu.

Baca Juga : MUSIM HUJAN BANJIR AIR MATA

Lumpur belum mengering sisah endapan akibat kiriman banjir yang yang terjadi pada Rabu 29 Juni lalu, kini kawasan itu kembali terendam banjir. Peristiwa bencana berulang itu ditenggarai tak lepas dari aktifitas pertambangan yang dilakukan oleh PT IMIP.

Tidak sulit untuk menghubungkanya, mengingat hutan dikawasan hulu telah di babat habis dan bukitnya dikeruk dan disulap menjadi kolam raksasa oleh perusahaan pertambangan. Peristiwa banjir di kawasan Kecamatan Bahodopi ini, bukan lah hal yang baru terjadi.

Related posts:

Halaman Selanjutnya :Dari catatan Trilogi, banjir juga pernah terjadi pada 15 Juni 2019 silam....