Banggai – Tradisi sakral Mombowa Tumpe 2025 kembali menggetarkan Tanah Batui.
Ribuan warga adat menapaki jalur prosesi secara berjalan kaki, mengiringi pengantaran telur Maleo menuju Sungai Batui sebelum diberangkatkan menjelang subuh ke Kabupaten Banggai Laut.
Sejak pagi buta, rombongan adat bergerak melewati rute turun-temurun.

Mereka terlebih dahulu berhenti di Tanjung Pinalong untuk melaksanakan ritual melempar batu, lalu berlayar menuju Pulau Tolo guna mengganti pembungkus daun telur Maleo.
Tahap akhir dilakukan di Pelabuhan Banggai Laut, tempat simbol adat itu diserahkan secara seremonial.
Prosesi tahun ini menunjukkan konsolidasi yang kuat antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dan unsur keamanan.
Hadir di lokasi antara lain Drs. H. Amin Djumail yang mewakili Bupati Banggai, Kabid Ekonomi Kreatif Dispar Banggai Dewiyanti Lamala, Kasubag Umum & Kepegawaian Verawati Abdullah, perwakilan Polsek dan Danramil Batui, serta Sekretaris Adat Kabupaten Banggai, H. Sofyan Sayunan.
Ribuan warga dari seluruh desa di Kecamatan Batui turut hadir, termasuk perwakilan perusahaan dan tokoh adat Bosanyo. Suasana hangat dan penuh penghormatan menyelimuti seluruh rangkaian prosesi.
Dalam pernyataannya, Sekretaris Adat Kabupaten Banggai H. Sofyan Sayunan menegaskan bahwa Tumpe merupakan tradisi yang tidak boleh pudar meski zaman berubah.
“Ritual adat Tumpe ini sampai Kiamat pun akan tetap dilaksanakan. Ini amanah leluhur. Tempat penakaran telur harus kita jaga. Perda Adat 254 sudah hadir dan aturan khusus akan diperkuat melalui Peraturan Bupati,” ujarnya sembari mengajak masyarakat menjaga silaturahmi dan warisan budaya.
Camat Batui juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat adat yang menjaga kekhidmatan prosesi, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.
Melalui sambutan resmi yang dibacakan Drs. H. Amin Djumail, Bupati Banggai H. Amiruddin Tomerala, MM, menegaskan bahwa Mombowa Tumpe telah lama menjadi titik temu nilai kebersamaan masyarakat Banggai.
“Tradisi ini memperkuat harmoni sosial dan kecintaan pada warisan leluhur. Dengan memohon ridho Allah SWT, prosesi pengantaran Tumpe saya lepas secara resmi,” tegasnya.
Puncak Mombowa Tumpe 2025 hadir saat tokoh adat Batui, Kusali Matindok Muh. Amin Madang, membacakan sejarah singkat ritual dalam bahasa Saluan.
Dengan tutur yang kuat, ia menggambarkan perjalanan panjang pengantaran telur Maleo serta kaitannya dengan jejak syariat Islam di Tanah Banggai.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas semakin berkurangnya habitat Maleo.
Sebagai bentuk penghormatan adat, pengambilan telur kini dibatasi hanya sekali dalam setahun.
Mombowa Tumpe 2025 kembali meneguhkan posisi tradisi ini sebagai pilar budaya Banggai.
Selain menjadi simbol penghormatan leluhur, ritual ini mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian Maleo satwa endemik yang memegang makna mendalam dalam budaya lokal.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat, komitmen memperkuat adat dan menjaga alam ditegaskan untuk diwariskan kepada generasi mendatang.



