Tolitoli –  Kondisi Jembatan Malangga Tolitoli kian memprihatinkan.

Warga Desa Malangga, Kecamatan Galang, mendesak pemerintah daerah segera turun tangan membangun kembali jembatan yang rusak parah sejak diterjang banjir pada Oktober 2025 lalu.

Infrastruktur tersebut merupakan satu-satunya akses utama warga untuk beraktivitas sehari-hari.

Jembatan Desa Malangga

Rusaknya Jembatan Desa Malangga membuat mobilitas masyarakat lumpuh.

Aktivitas ekonomi, sosial, hingga pendidikan terganggu.

Warga mengaku terpaksa menghadapi risiko setiap hari karena tidak ada jalur alternatif yang memadai untuk melintasi Sungai Malangga.

“Sejak jembatan ini hancur, semua aktivitas jadi sulit. Kalau air sungai naik, kami tidak bisa menyeberang,” ujar seorang tokoh masyarakat yang ditemui di lokasi jembatan rusak di Tolitoli, Selasa (30/12/2025).

Ia menuturkan, kondisi paling memprihatinkan dialami anak-anak sekolah. Saat debit air meningkat, para orang tua terpaksa menggendong anak mereka untuk menyeberangi sungai.

Situasi ini semakin berbahaya ketika musim hujan tiba.

“Anak sekolah terpaksa menyeberang sungai di Tolitoli. Kalau hujan, arusnya deras dan sangat berisiko,” katanya.

Kerusakan ini terjadi setelah jembatan putus akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa bulan lalu.

Hingga akhir tahun, belum ada perbaikan permanen yang dilakukan pemerintah daerah.

Kepala Desa Malangga, Abdul Salam, membenarkan keluhan warganya. Ia menyebut sudah berulang kali menyampaikan kondisi Jembatan Malangga Tolitoli kepada instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Tolitoli.

“Saya sudah beberapa kali ke Dinas PUPR, tapi jawabannya selalu sama, belum ada anggaran,” ujar Abdul Salam.

Upaya serupa juga dilakukan dengan mendatangi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tolitoli.

Namun, hasilnya tidak berbeda. Keterbatasan anggaran kembali menjadi alasan utama belum adanya penanganan.

Menurut Abdul Salam, keberadaan jembatan tersebut sangat krusial karena menjadi satu-satunya jalur penghubung desa.

Tanpa jembatan, warga harus menempuh jalur memutar yang jauh untuk menuju pusat kota.

“Kalau mau ke kota, warga harus lewat Desa Tinigi, lalu ke Lakatan, atau lewat Tinigi menuju Kalangkangan. Jaraknya jauh dan memakan waktu,” katanya.

Kondisi ini memperbesar beban biaya transportasi warga, terutama bagi petani dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada akses cepat ke pasar.

Tidak sedikit warga yang memilih menunda aktivitas karena jalur alternatif dinilai tidak efisien.

Situasi tersebut mendorong warga Desa Malangga desak pemerintah agar segera memberikan solusi konkret.

Mereka berharap pembangunan kembali jembatan bisa masuk dalam prioritas anggaran daerah.

Abdul Salam berharap aspirasi masyarakat bisa sampai ke pimpinan daerah dan lembaga legislatif.

“Kami berharap Bupati dan Ketua DPRD Tolitoli bersama anggota DPRD lainnya bisa mendengar kondisi kami. Jembatan ini kebutuhan mendesak,” ujarnya.

Hingga kini, warga Desa Malangga masih menunggu kepastian.

Sementara itu, risiko keselamatan terus mengintai setiap kali hujan turun dan debit Sungai Malangga meningkat.