Iklan Header Trilogi 17 Agustus 2026

Jalan Nasional Sulawesi Tengah 586 Km Dikebut, Progres 86,75% di Tengah Ancaman Longsor

Penanganan permanen dinilai penting untuk menjaga konektivitas jalur nasional sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap distribusi logistik apabila terjadi bencana.

Untuk tahun berjalan, Satker PJN Wilayah III menargetkan satu paket preservasi jembatan selesai pada akhir November 2026.

Sementara empat paket preservasi Jalan Nasional Sulawesi Tengah ditargetkan rampung seluruhnya pada akhir Desember 2026.

Dengan panjang koridor mencapai lebih dari 586 km, preservasi ruas jalan nasional yang membentang di tiga Kabuppaten di Sulawesi Tengah, Poso-Tojo una-una- Banggai menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas antardaerah sekaligus mendukung mobilitas masyarakat dan arus logistik di Sulawesi Tengah.

Dengan panjang koridor mencapai 586,35 km, preservasi Jalan Nasional Sulawesi Tengah tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberlangsungan konektivitas dan distribusi logistik antardaerah.

BACA JUGA : SBSN Tolai Sausu Ngebut! Progres Salip Target, Waktu Tempuh Siap Dipangkas

Progres yang telah melampaui target menjadi modal penting untuk mengejar penyelesaian pekerjaan hingga akhir 2026.

Namun, ancaman longsor dan kondisi geometrik jalan di sejumlah titik menunjukkan bahwa pemeliharaan rutin belum cukup untuk menjamin keandalan jalur dalam jangka panjang.

Karena itu, kebutuhan rekonstruksi pada lima ruas kritis menjadi pekerjaan lanjutan yang tidak dapat diabaikan.

Penanganan permanen diperlukan agar jalur Poso-Banggai tetap berfungsi sebagai koridor logistik regional dan tidak berubah menjadi titik rawan gangguan ketika bencana terjadi.

Satker PJN Wilayah III menargetkan satu paket preservasi jembatan rampung pada akhir November 2026, sementara empat paket preservasi jalan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.

Setelah target tersebut tercapai, tantangan berikutnya adalah memastikan titik-titik rawan longsor memperoleh dukungan anggaran dan penanganan permanen sehingga Jalan Nasional Sulawesi Tengah tidak sekadar terjaga secara fisik, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap risiko bencana dan gangguan konektivitas.