Faktor cuaca, kondisi tanah yang labil, hingga tingginya lalu lintas kendaraan besar menjadi penyebab utama kerusakan jalan.
“Faktor cuaca, kondisi tanah yang labil dan lalu lintas kendaraan besar memegang kontribusi terbesar dalam kerusakan jalan,” jelas Febriant.
Baca Juga : Sat Set! Progres Jalan Tentena Taripa Melesat, Fokus di STA 20+600
Kondisi tersebut juga diperparah oleh aktivitas kendaraan bertonase tinggi maupun kendaraan over dimension over loading (ODOL) yang berpotensi mempercepat penurunan kualitas perkerasan jalan.
Meski demikian, pihaknya memastikan seluruh pekerjaan tetap dilaksanakan sesuai standar teknis yang berlaku.
“Kami berusaha untuk selalu melaksanakan pekerjaan dengan standar sesuai ketentuan Binamarga,” tegasnya.
Berdasarkan data pelaksanaan, dalam penanganan efektif ruas ini terdapat pekerjaan penanganan mayor sepanjang 200 meter dan penanganan minor sepanjang 4,4 kilometer.
Paket Preservasi Jalan Taripa–Pape–Tidantana dan Taripa–Tomata–Beteleme Tahun Anggaran 2026 diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan jalan nasional sekaligus menekan risiko kecelakaan akibat jalan berlubang.
Dengan penanganan yang terus berjalan, konektivitas dan kelancaran distribusi logistik di wilayah Morowali Utara diharapkan semakin terjaga.
