Pada 2016, ia berhasil menghadirkan Musyawarah Nasional (Munas) INKINDO di Kota Palu menjadikan asosiasi tersebut sebagai organisasi pertama yang menggelar agenda nasional di Sulawesi Tengah.
Momentum ini tidak hanya menjadi kebanggaan organisasi, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian daerah.
Kehadiran peserta dari seluruh Indonesia menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, hingga UMKM lokal.
Langkah tersebut mempertegas posisi Gufran Ahmad sebagai figur yang mampu mengangkat daya saing daerah ke panggung nasional sebuah kualitas penting bagi calon Ketua Kadin yang dituntut memiliki perspektif nasional berbasis kekuatan daerah.
Ujian kepemimpinan Gufran Ahmad terlihat jelas saat bencana besar melanda Sulawesi Tengah pada 2018.
Baca Juga : Tender Jalan Penuh Kejanggalan !
Di tengah situasi duka dan keterpurukan, ia memimpin penyaluran bantuan langsung kepada anggota INKINDO yang terdampak.
Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk uang tunai dengan skema:
- Rp25 juta untuk rumah rusak berat
- Rp15 juta untuk rumah rusak sedang
- Rp10 juta untuk rumah rusak ringan
Distribusi bantuan dilakukan relatif cepat, yakni sekitar satu bulan pascabencana. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah konkret untuk mempercepat pemulihan ekonomi anggota agar dapat kembali menjalankan usaha dan aktivitasnya.
Pendekatan ini memperlihatkan sisi lain dari Gufran Ahmad, yakni kepemimpinan yang tidak hanya strategis, tetapi juga empatik dan responsif terhadap krisis.
