BACA JUGA : Dari Rival Jadi Satu Meja | Ahmad Ali dan Anwar Hafid Mulai Baca Peta Politik Sulteng 2029
“Kita tidak sedang bersiap untuk menjadi penonton di Pemilu 2029. Target PSI sangat jelas dan terukur: merebut posisi tiga atau empat besar partai nasional,” ujar Ahmad Ali disambut riuh para pengurus daerah.
Para pengamat menilai, penunjukan Ahmad Ali sebagai Ketua Harian membawa perubahan paradigma yang masif bagi PSI.
Gaya politik Ali yang taktis, pragmatis, dan memiliki jaringan luas di daerah diproyeksikan mampu merombak citra PSI dari yang semula dianggap sebagai partai elitis anak muda perkotaan, menjadi kekuatan politik yang berakar kuat di akar rumput daerah.
Ketokohan lokalnya bahkan terbukti masih sangat diperhitungkan setelah ia baru-baru ini mengadakan pertemuan strategis “satu meja” dengan rivalnya di Pilgub terdahulu, Anwar Hafid (Gubernur Sulteng saat ini), sebuah gerilya politik lokal yang diyakini bakal berimbas pada konformasi peta koalisi nasional.
Namun, jalannya manuver agresif ini tidak sepenuhnya mulus. Tepat ketika Ahmad Ali mulai mengonsolidasikan mesin partai, ujian politik berupa isu hukum masa lalu kembali mencuat ke permukaan dan ramai diperbincangkan di tingkat nasional.
BACA JUGA : Dari Sulteng, PSI ‘Pasang Strategi’ Bidik Suara 70% Pemilih Muda Jelang 2029
Isu seputar penyidikan kasus dugaan gratifikasi pertambangan di Kutai Kartanegara, di mana KPK sempat menyita aset senilai Rp3,49 miliar pada awal 2025, kembali menjadi sorotan publik.


