PALU – Proyek rehabilitasi dan rekonstruksi Jalan Rajamoili Komodo di Kota Palu resmi dituntaskan.

Ruas strategis yang menghubungkan Rajamoili, Jalan Komodo hingga kawasan penggaraman Pantai Talise dan Kampung Nelayan itu kini siap beroperasi sebagai bagian dari segmen elevated road Kota Palu.

Penanganan koridor ini dirancang sebagai jalan layang, bukan segmen pedestrian, dengan tujuan meningkatkan kapasitas lalu lintas sekaligus memperkuat ketahanan infrastruktur pesisir terhadap potensi bencana.

Berdasarkan data teknis proyek paket A1, total panjang penanganan pada ruas Rajamoili–Jalan Komodo–penggaraman Pantai Talise mencapai lebih dari 4 kilometer.

Rinciannya, segmen elevated road Rajamoili Komodo sepanjang 2,096 kilometer, penggaraman Pantai Talise 1,625 kilometer, serta ruas Rajamoili–Kimaja sepanjang 0,690 kilometer.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.5 Provinsi Sulawesi Tengah, Rizky Ananda, ST., M.Eng., menyampaikan bahwa seluruh pekerjaan utama pada segmen ini telah diselesaikan.

Sejumlah item krusial seperti pengaspalan, marka jalan, serta pekerjaan Jembatan Komodo telah rampung dan siap mendukung operasional jalan layang Kota Palu.

Proyek Jalan Rajamoili Komodo merupakan bagian dari Paket A1 Kota Palu, yang mencakup penanganan 16 ruas jalan dengan total panjang 16,255 kilometer.

Secara khusus, penanganan ruas Jalan Rajamoili–Cut Mutia dilakukan sepanjang 2,121 kilometer dan kini telah berfungsi optimal.

Dari sisi pendanaan, Paket A1 Kota Palu menggunakan skema Infrastructure Reconstruction Sector Loan (IRSL), hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency.

Pelaksanaan konstruksi proyek ini dikerjakan oleh PT Bumi Duta Persada sesuai kontrak bernomor HK.02.01/IRSL-A1/Bb14.6.5/01.

Secara teknis, desain elevated road Rajamoili Cut Mutia mengedepankan peninggian badan jalan setinggi 3 hingga 4 meter.

Desain tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas jalan sekaligus memperkuat fungsi perlindungan terhadap potensi bencana, khususnya di kawasan pesisir Kota Palu.

Selain konstruksi jalan, proyek ini juga mencakup penggunaan blok beton, penataan ruang terbuka hijau (RTH), serta penambahan elemen ikon kawasan berupa patung kuda.

Untuk mitigasi risiko tsunami dan pergerakan tanah, diterapkan dua metode utama, yakni toe protection dan retaining wall.

Toe protection menggunakan block armor untuk meredam energi gelombang laut di area dengan ketersediaan lahan memadai, sementara retaining wall diterapkan di lokasi dengan keterbatasan ruang guna menjaga stabilitas struktur jalan layang pada kawasan rawan pergeseran tanah akibat gempa.

Dengan selesainya proyek Jalan Rajamoili Komodo, pemerintah berharap infrastruktur ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan di koridor Rajamoili–Cut Mutia sekaligus memperkuat konektivitas dan ketahanan infrastruktur pesisir di Kota Palu.