Berbicara tentang tende tentu tidak asing di telinga kita, terutama bagi masyarakat Kaili.
Tende merujuk pada ucapan pujian yang berlebihan kepada seseorang.
Oleh : Athif Muhyiddin Hishad (Ketua HMJ FDKI UIN Datokarama Palu)
Praktik ini telah mengakar dalam keseharian masyarakat Kaili, namun hari ini banyak yang menganggap tende sebagai bagian dari budaya Kaili itu sendiri.
Pertanyaannya, benarkah tende merupakan bagian asli dari budaya masyarakat Kaili? Kita mengetahui bahwa masyarakat Kaili dikenal dengan budaya keterbukaan, cara berkomunikasi yang singkat, jelas, langsung, dan apa adanya.
Orang Kaili cenderung tidak menggunakan ungkapan yang berputar-putar atau berlebihan.
Dengan demikian, karakter tende yang penuh pujian amat bertolak belakang dengan prinsip komunikasi masyarakat Kaili yang “apa adanya, bukan ada apanya”.
Saat ini kita diperlihatkan fenomena munculnya kegiatan yang dibalut dengan label budaya Kaili, yaitu “Festival Tende” dengan tagline Patende Akbar yang direncanakan berlangsung tahun ini, bahkan melibatkan pejabat-pejabat penting negara.
Hal ini tentu menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, terutama jika dicermati secara lebih mendalam.
